
Ya, seketika itu langit berubah, awan dengan warna keabu-abuan itu menggumpal menyelimuti langit bagai bunga kol. Segera aku turun dan memutuskan untuk berbalik arah kembali ke rumah, pikirku “Masih ada waktu esok hari”. Karena besok adalah hari libur, lebih baik hari ini ku cukupkan dengan mengistirahatkan diri agar bisa terkumpul niat dan tekad yang semakin kuat. Kuharap fajar esok bisa bersahabat denganku. Cerah hingga petang.
Pagi hari pun tiba, tepatnya jam 8 aku akan pergi ke sana. Namun, aku akan pergi ke ladang terlebih dahulu untuk meminta izin kepada kakek dan nenek. Sambil ku berjalan, terlintas lagi dalam benakku “Apakah aku bisa berhasil? Apakah yang kulakukan selama ini akan mengantarkanku pada masa depanku?” Aaah, apa yang ada dipikirkanku ini. Kenapa hatiku resah tidak karuan, rasanya sesak sekali.
“Sudah sampai. kek nek aku pergi ke warnet dulu.” Ucapku
“Iya cu, hati-hati di jalan.” Pesan kakek dan nenek
“Baik nek, tapi mungkin aku akan pulang sore. Assalamualaikum.”
“wa’alaikumussalam.” Jawab kakek dan nenek
Terus ku berjalan, dan tanpa ku sadari aku sudah berada tepat di depan warnet alias warung Internet.
“Mas ada yang kosong?”
“Ana, mlebu wae!” (Ada, masuk saja) Jawab Mas Kempot penjaga warnet itu.
Hari ini sengaja ku luangkan waktu untuk mencari informasi beasiswa. Aku mulai mengoperasikan komputer yang berada di hadapanku “Mencari info beasiswa yang sesuai dengan cita-citaku.” Situs demi situs ku kunjungi, dengan perlahan dan teliti. Tak terasa sudah 4 jam ku lewati, mataku mulai perih, ditambah suasana warnet yang pengap.
“Uuh keringatku!, ternyata cuaca diluar sangat panas. Keringat ini belum seberapa dibandingkan lelahnya perjuangan orang tuaku, nenek dan kakek, yang selama ini setia merawatku.”
Aku lupa uang saku ku di hari ini “tak banyak” hanya cukup untuk membayar warnet 3 jam.
“Bagaimana ini?” Gelisahku
Dengan hati-hati ku dekati Mas, Kempot, “Mas, 4 jam berapa?”
“Wolu ngewu ndo (8.000 dek).” kata Mas Kempot
“Mas saya ada uang 6000.”
“kepiye, yen sampeyan pengin muter internet ing kene, nggawa dhuwit sing cukup. Lunga!!!” (Kok bisa, kalau kamu mau main warnet di sini, bawa uang yang cukup. Pergi sana). Aku terkesiap, tapi aku tak terlalu memusingkannya, karena apa yang dia katakan tidak terlalu ku mengerti, sebab banyak kosakatanya yang tidak kupahami. Yang ku mengerti hanyalah saat dia mengusirku dengan menunjuk ke arah luar sambil marah-marah yang menurutku itu sangat lucu. lantas akupun pergi dengan perasaan geli serta kikikan yang tertahan.
Kini aku berjalan dikelilingi lautan beton, perasaan resah ini muncul kembali.
“Hai lautan beton, apa salahku ini?!” ku tendang botol aqua yang ada di sampingku tapi sialnya itu mengenai seseorang yang entah datang dari mana.
Bruk, “Wahai anak muda, tindakanmu sangat tidak bermanfaat. Andai saja kamu memikirkan terlebih dulu apa yang akan kau lakukan.” Ujarnya kesal
“Maaf pak maaf, tidak sengaja.Sesalku
Aku tidak langsung pulang dan kuputusan pergi ke rumah pohon di dekat kali sana, agar ku dapat mengevaluasi diriku. Sudah berapa banyak masalahku hari ini, mulai dari tagihan utang Mak Beti, di warnet, di jalan, banyak sekali. Ku tambah kecepatan langkahku, agar jarak dengan rumah pohon semakin dekat. Berbagai jenis jalan ku lewati, akhirnya sampai juga aku disana.
Pltek, aww…